Satria Perbawa Sastrawinata

Kelahiran bandung pada tanggal 10 juni 1994. Merupakan lulusan dari Fakulas Bisnis & Ekonomi UNPAD'12 dengan program studi Manajemen. Seorang entrepreneur muda yang kini tengah merintis bisnis kedai kopi.


Profil Satria

Nama :Satria Perbawa Sastrawinata
Kelahiran: Bandung, 10 Juni 1994
Golongan darah: A-
Tinggi:182 cm
Berat:72 kg
Pendidikan 
SD:Taruna Bakti
SMP:Taruna Bakti
SMA:SMA N 5 Bandung
Kuliah:UNPAD '12 (FEB)
Pendidikan Barista:Lavazza Barista's School. Torino, Italia
Kewarganegaraan:Indonesia

Latar Belakang dari Satria

Bandung, 10 Juni 1994



Hujan dan adzan subuh adalah kawan peramai yang mengiringi isak tangis si kedua dari tiga, sang ibu tertawa menutup letih yang kelewat kentara. Ayahnya menangis saat dirinya berpindah ke dalam gendongan. Sensasi panik yang bercampur euforia nyatanya masih terus hadir walaupun ini bukan kali pertama.

"Satria, dengan Perbawa dan nama keluarga."

Dari sana, Satria Perbawa Sastrawinata hadir sebagai anak nomor dua di keluarga.


Dari kecil, aroma kopi memang selalu menjadi penenang. Bagaimana aroma itu menguar dan mengisi ruang setiap pagi dari secangkir kopi yang diseduh spesial oleh sang ibu untuk ayahnya.

Aromanya manis dan pahit dalam bersamaan, saling mengikat dan terikat sebegitu seimbang, merupakan pengusir lesunya tubuh pagi-pagi.

Lalu, saat ia menginjak kelas enam sekolah dasar, Satria mendeklarasikan diri sebagai pecinta aroma kopi, berlari-lari sore itu sembari membawa nampan yang mewadahi cangkir kopi milik sang ayah lalu berteriak,

"Ayah, Satria jatuh cinta!"

Sore itu, tak ada yang tidak tertawa. Baik ayak, Kakak, atau sang ibu di belakang yang baru hadir dengan toples berisikan kacang bogor, dan cheese stick.

Tidak pernah pula sekalipun ia melewatkan kopi di setiap cerita karangan kala tugas mengarang paragraf saat pelajaran bahasa indonesia. Bahkan, saat ia dapat tugas untuk menulis cerita tentang liburan semester yang baru usai dua hari lalu, ia malah mendeskripsikan rasa kagumnya pada bubuk kopi brastagi ketimbang wahana-wahana seru yang sempat dimainkan saat sekeluarga berlibur ke Sumatera Utara.


Sekalipun dirinya sudah mendeklarasikan diri sebagai pecinta aroma kopi, nyatanya belum pernah setegukpun kopi masuk melewati indra perasa lalu kerongkongannya. tidak boleh kata ayah waktu itu, masih terlalu kecil untuk minum kopi, belum kuat katanya. Nanti tidak bisa tidur lalu pusing saat di sekolah. Makanya ia menurut, karena, sudah cukup rasa kantuk harus menghantuinya setiap hari, kalau ditambah rasa pusing, tidak asik!

Kopi pertamanya adalah saat ia duduk di bangku kelas dua sekolah menengah pertama, kopi ayahnya. Kopi kapal api satu sendok penuh dengan gula satu sendok juga, dari sana ia betul-betul jatuh cinta atas rasa unik dari kopi yang persis sama dengan aromanya. Kemudian ia membuat janji dengan sang ayah untuk berkeliling Indonesia, lalu nanti Asia untuk mencoba ragam kopi Nusantara dan Mancanegara.



Lalu, satu minggu setelahnya ayah Satria meninggal dunia, karena kecelakaan kerja, tanpa aba-aba, tanpa sepenggal pun kata pamit diterima.

Dunia Satria serasa berhenti detik itu juga. Semua rencana pupus sudah, berminggu-minggu ia harus memasang tameng kuat dan menghibur sang ibu, adik dan kakaknya. Meski malam harinya, diam-diam ia sering duduk di gazebo belakang rumah sembari meminum seduhan kopi menggunakan gelas favorit ayahnya. Menghirup aroma kopi dalam-dalam, lalu menyesapnya pelan-pelan, sembari menangis dalam diam.

Sekarang, kopi bukan sekadar hal yang didamba, kopi juga penyimpan memori, pengingatnya akan sosok sang ayah yang akan selamanya dipuja. Satria rindu ayah, rindu sekali.


Satria tumbuh dengan baik, kesedihan tak membelenggunya selama itu, belajar menerima dan melanjutkan hidup. Meski, kebiasan minum kopi malam-malam di gazebo belakang rumah belum juga dapat hilang. Hidup terus berlanjut, meski ia dan dua saudara lainnya harus berpisah kota. Liona, adik perempuannya, lebih memilih ikut kakak perempuannya untuk tinggal dan melanjutkan pendidikan di Jakarta. Sedangkan ia dan ibunya masih memutuskan untuk tinggal di Bandung.

Ia sendiri melanjutkan pendidikannya di SMA N 5 Bandung, dengan rekor prestasi yang masuk dalam kategori baik. Selalu bertahan di posisi lima besar dengan stabil, walau tak pernah sekalipun posisi urutan nomor satu sempat dan dapat dikecap, well dirinya tidak sepeduli itu omong-omong.

Satria mengenal rokok saat duduk di bangku kelas dua, rokok dengan brand serupa dengan kepunyaan sang ayah, Sampoerna Mild warna merah, ia suka, merupakan pasangan pelengkap kopi hitam favorit.

Kehidupan pertemanannya normal, mengecap nakal-nakal khas remaja merupakan hal biasa, 'kan? Gonta-ganti pacar, bolos, ah tipikal.


Setelah tiga tahun, akhirnya ia lulus dengan baik lalu berhasil masuk ke salah perguruan tinggi negeri Bandung. Resmi menjadi mahasiswa fakultas ekonomi dan bisnis lalu mengambil program studi manajemen untuk penjurusan.

Ia lulus tiga setengah tahun kemudian, masuk hitungan cepat. Kemudian ia sempat bekerja di salah satu perusahaan elit, meski akhirnya memutuskan keluar setelah nyaris enam bulan bekerja. Menjadi karyawan bukanlah pilihan hati sedari dulu, dan rupanya masih bukan hingga kini. Setelah keluar, ia mengambil kelas khusus untuk barista kopi lalu keluar dengan sertifikat, dan mulai merintis usaha kedai kopi sendiri.


Usaha Kopi Miliknya, "Filosofi Kopi."

Filosofi Kopi adalah kedai kopi miliknya, masing-masing kopi yang disaji dibuat dan diracik sepenuh hati. Dari biji kopi pilihan yang dicari dengan keringat sendiri. Kopi-kopi di sini punya filosofi sendiri di setiap cangkirnya. Setiap hal yang punya rasa selalu punya nyawa.


RELASI

(Non Playable Character)


Sarah adityara athalla

Kakak pertama, kelahiran 1992.


Adsila Liona Dilarai
Adik Kandung

Tempat Tanggal Lahir :Bandung, 3 Januari 1995.
Pendidikan:Universitas Indonesia - Arsitektur Interior, Fakultas Teknik. Lulus tahun 2017.
Pekerjaan:Konsultan interior, Fotografer.

Gianna L. Sinatria

Sepupu.

"Gianna gak tau kalo Abang gak ada, mau jadi apa Gianna sekarang."

• Tempat dan Tanggal Lahir : 15 Januari 1992
• Jenis Kelamin : Perempuan
• Golongan Darah : A+
• Kewarganegaraan : Indonesia
• Pekerjaan : Ibu rumah tangga dan pemilik butik

Hubungan keduanya terlampau dekat. Intinya, Satria selalu siap siaga di samping kakak sepupunya (well, meski di sini dirinya yang berperan jadi yang tua, pelindung nona.)


Arisha Putri Maharani (Mantan Pacar semasa SMA, nantinya partner bisnis)

"Kangen jadi anak SMA lagi, ga perlu mikirin masa depan sampe segininya."

Sempat berpacaran dua tahun. Pertemuan keduanya klise, saat itu Arisha merupakan juniornya saat di bangku SMA, dan Satria adalah salah satu pengurus OSIS yang ikut andil secara aktif dalam penyelenggaraan MOS.


Indra Bangsawan A.
Sahabat karib, partner bisnis utama Filosofi Kopi

Nama Lengkap : Indra Bangsawan Adiputra 
Nama Panggilan :Indra  
Tempat & Tanggal Lahir : Yogyakarta, 10 Desember 1995 
Pekerjaan : Pegawai kantoran bagian keuangan dan manajer utama Filosofi Kopi. 
Tinggi Badan : 180cm  
Berat Badan : +/- 65kg  
Domisili Saat ini :Jakarta
Status :Belum menikah 

“Bang, jadi gimana nih bulan ini agak cekak kalo mau buat renov belakang toko.”

Indra bisa dibilang merupakan sahabat karib dari Satria, di sini. Mereka bisa saling kenal karena Liona (adik Satria) dan Indra pernah dekat semasa SMA di Jakarta. Sering datang ke rumah, dan berujung jadi kawan main setia di akhir minggu untuk Satria. Kawan main basketlah, futsal lah.


Menjadi setahun lebih muda dari Satria tak membuat ia kalah dewasa, justru, ketimbang Satria, Indra ini lebih bijak dan penuh pertimbangan dibandingkan Satria yang sering kali berbuat sesuka hati.


Laman Khusus

masih kosong, sabar ya